- Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
- Sagoo Kitchen: Gurih Mantap! Nasi Goreng Kunyit Ayam Bledos di Resto Jadoel
- Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- Hotel Indonesia Natour Raih Penghargaan dari ITTA Foundation
- Beda Tahu Petis Bandung yang Dicicip Jokowi dengan Tahu Petis Semarang
- Redjeki Kuliner: Malas Masak? Pesan Saja Ayam Goreng dan Sayur Lodeh Enak Ini
- Sumber Bestik Pak Darmo: Empuk Gurih Bestik Lidah yang Menggoyang Lidah
- Waroeng Keroepoek : Menikmati Wedang Bergaya Kekinian di 'Cafedangan'
Wisata Nias Selatan: Sorake Tempat Selancar Terbaik
- Kabupaten Angkola Sipirok
- Kabupaten Asahan
- Kabupaten Batubara
- Kabupaten Dairi
- Kabupaten Deli Serdang
- Kabupaten Humbang Hasundutan
- Kabupaten Karo
- Kabupaten Labuan Batu
- Kabupaten Langkat
- Kabupaten Mandailing Natal
- Kabupaten Nias
- Kabupaten Nias Selatan
- Kabupaten Padang Lawas
- Kabupaten Padang Lawas Utara
- Kabupaten Pakphak Barat
- Kabupaten Samosir
- Kabupaten Serdang Begadai
- Kabupaten Simalungun
- Kabupaten Tapanuli Selatan
- Kabupaten Tapanuli Tengah
- Kabupaten Tapanuli Utara
- Kabupaten Toba Samosir
- Kota Binjai
- Kota Medan
- Kota Padang Sidempuan
- Kota Pematang Siantar
- Kota Sibolga
- Kota Tanjung Balai
- Kota Tebing Tinggi
Pada 28 Maret 2005, gempa melanda kepulauan Nias dengan
kekuatan 8,7 skala Richter yang meluluhlantakkan perumahan, tempat ibadah,
kegiatan pemerintahan, dan pembangunan di daerah tersebut. Sukawi ST MT, Dosen
Arsitektur Fakultas Teknik Undip bersama tim dari Pusat Pelayanan Perencanaan
Pembangunan Partisipatif (P5) Undip bekerja sama dengan UN-Habitat menjadi
fasilitator dalam proses perencanaan dan pengembangan infrastruktur untuk
KABUPATEN Nias Selatan (Nisel) berada di Utara di Pulau Nias, Sumatra Utara.
Sebelumnya ia adalah bagian dari Kabupaten Nias dengan status otonom diperoleh
pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003. Kabupaten yang
beribukota di Teluk Dalam terdiri atas 104 gugusan pulau besar dan kecil, dan
masyarakatnya tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.
Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten itu sebenarnya cukup menjanjikan. Banyak pantai indah di
Selain itu, terdapat juga peninggalan cagar budaya, yaitu permukiman desa adat Nias di Bawomataluo yang terletak di pedalaman dan berada di puncak bukit. Kompleks tersebut menyimpan banyak pesona, khususnya kehidupan asli masyarakat di
Kawasan tersebut sangat bagus untuk tujuan wisata. Pasalnya, di sepanjang Pantai Lagundri dan Pantai Sorake berjajar homestay yang siap melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai. Tarifnya cukup semurah penginapan melati. Sampai saat ini kalau kita naik feri dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau naik pesawat dari Polonia
Menurut Harison Sagoto, pemuda setempat, ombak di Pantai Sorake bisa mencapai ketinggian 15 meter karena langsung berhadapan dengan Samudera
Berkat selancar pula, di sepanjang kedua pantai tersebut tumbuh aneka penginapan dan kafe. Bolehlah kalau disetarakan dengan Kuta atau Legian. Sayangnya, Pantai Lagundri dan Sorake hanya ramai pada saat ada kejuaraan selancar internasional, yang biasanya berlangsung pada bulan Juni hingga Juli. Pada dua bulan itu, ombak sedang besar-besarnya.
\'\'Selain kedua bulan tersebut, Lagundri dan Sorake tak ubahnya pantai indah yang sepi, sunyi, dan merana,\'\' cerita Milayar Wau, seorang pengusaha homestay di Lagundri dengan nada sedih.
Wajar saja pengusaha itu agak meratap. Pasalnya, yang rutin datang di setiap hari libur atau akhir pekan, hanyalah wisatawan lokal atau masyarakat sekitar Kota Teluk Dalam. Orang-orang tua dan muda datang untuk mandi di pantai, berenang-renang, atau jalan-jalan menikmati keindahan laut untuk sekadar refresing menghabiskan waktu liburan. Dan memang wisata murah meriah seperti itu jadi satu-satunya pilihan rekreasi warga.
Menjaring Wisatawan
Sebenarnya, telah lama ada upaya untuk mendongkrak pariwisata di kawasan tersebut. Sebut saja, ketika Sumatra Utara masih dipimpin Gubernur Raja Inal, di Pantai Sorake dibangun Hotel berbintang bernama Sorake Beach Resort. Hotel yang diresmikan pada 20 Juli 1994 berbintang empat. Untuk yang ingin merasakan tidur di bangunan rumah adat Nisel, dibuat juga cottage yang mengambil model rumah tradisional Nisel.
Ya, sebenarnya Nisel sangat potensial dalam segi wisata. Sayang sekali potensi tersebut seolah-olah terabaikan karena lupa membangun sarana dan prasarana, terutama transportasi yang memadai. Padahal berselancar atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai menjadi gambaran yang lekat begitu kata \"Nias\" disebut. Bayangan indahnya pulau itu pun menyeruak dengan gambaran laut jernih berlapis warna hijau bening dan biru memukau, pasir putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Belum lagi pesona yang memikat dari peninggalan budaya megalitik dan juga rumah adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias yang telah berumur ratusan tahun.
Selain desa adat Bawomataluo, sebenarnya ada beberapa permukiman adat yang dapat menjadi andalan wisata Nisel. Sebut saja desa adat Botohilitano yang banyak memiliki peninggalan batu megalitik, dilengkapi ukiran dan patung bermotifkan hewan dan tumbuhan. Atau, desa adat Orahili yang merupakan cikal bakal berdirinya Bawomataluo dengan deretan rumah saling berhadap-hadapan. Pun, desa adat Hilinawa Mazinge yang mempunyai rumah adat besar atau sering disebut Omo Sebuo. Rumah adat besar itu tempat tinggal pemimpin dan rumah bangsawan tertua di Nias. Menurut sebuah buku di rumah besar Hilinawa Mazinge, rumah tersebut masuk dalam daftar 10 tertua di dunia.
Untuk mencapai desa adat Hilinawa Mazinge, memang harus berjuang ekstra keras dan siap untuk berpetualang.
Kami harus menyusuri tiga buah sungai yang tidak punya jembatan. Alhasil, kami harus rela berbasah-basahan ketika menyeberang. Beruntung benar, penduduk sekitar mau membantu menyeberangkan sepeda motor yang kami pakai. Tapi sayang, handphone dan kamera yang kami bawa terendam. Maklum, saat menyeberang, hujan baru saja turun sangat lebat air sungai meluap.
Dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Utara, Nias bisa dibilang tertinggal nyaris dalam segala hal. Mungkin ada yang beranggapan bahwa Pemerintah \"mengabaikan\" Nias. Namun, ada realitas lain yang tidak boleh diabaikan kemungkinannya, yaitu soal posisi dan keadaan geografisnya sendiri.
Sebenarnya Nias sangat potensial untuk bisa menjadi daerah tujuan wisata karena mempunyai alam yang indah. Begitu banyak potensi siap membuai wisatawan dan diharapkan mampu membuka sejuta peluang pengembangan ekonomi bagi warga. Kenyataannya, jauh panggang dari api. Untuk menelusuri dan menikmati potensinya yang tersebar di pulau itu membutuhkan nyali besar.
(/73)
Sumber : www.suaramerdeka.com

Provinsi
